Monday, 29 January 2018

Belajar, Diksi dan Gaya Bahasa

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Bahasa terdiri atas beberapa tataran gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan kalimat. Kata merupakan tataran terendah & kalimat merupakan tataran tertinggi. Ketika Anda menulis, kata merupakan kunci utama dalam upaya membentuk tulisan. Oleh karena itu, sejumlah kata dalam Bahasa Indonesia harus dipahami dengan baik, agar ide dan pesan seseorang dapat mudah dimengerti. Dengan demikian, kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana. Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat dipergunakan dengan sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-kata tersebut harus digunakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang benar.
Menulis merupakan kegiatan yang mampu menghasilkan ide-ide dalam bentuk tulisan secara terus-menerus & teratur (produktif) serta mampu mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan (ekspresif). Oleh karena itu, ketrampilan menulis / mengarang membutuhkan grafologi, struktur bahasa, & kosa kata. Salah satu unsur penting dalam mengarang adalah penguasaan kosa kata. Kosa kata merupakan bagian dari diksi. Ketepatan diksi dalam suatu karangan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan karena ketidaktepatan penggunaan diksi pasti akan menimbulkan ketidakjelasan makna.
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan “cerita” mereka. Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan / menceritakan suatu peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan.

B.     Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1.      Pengertian diksi atau pilihan kata dalam Bahasa Indonesia
2.      Pembentukan kata atau istilah

C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui arti diksi atau pilihan kata dalam Bahasa Indonesia. Dan menghasilkan tulisan yang indah dan enak di baca. sehingga makna dengan tepat pada setiap pilihan kata yang ingin disampaikan.

D.    Manfaat
Adapun manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui pilihan kata yang baik dalam pengolahan kata.
2.      Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti
3.      Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.
BAB II
ISI


A.   Pengertian Diksi
Diksi menurut KBBI adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)
Pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan hanya dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan. Tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang indifidual atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi.
Pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata, tetapi juga mempersoalkan apakah kata yang dipilih itu dapat juga diterima atau tidak merusak suasana yang ada. Sebuah kata yang tepat untuk menyatakan suatu maksud tertentu, belum tentu dapat diterima oleh para hadirin atau orang yang diajak bicara. Masyarakat yang diikat oleh beberapa norma, menghendaki pula agar setiap kata yang dipergunakan harus cocok atau serasi dengan norma norma masyarakat, harus sesuai dengan situasi yang dihadapi. (Keraf, 2009)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan ;
·         Pertama, diksi mencakup kata – kata yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, cara menggabungkan kata – kata yang tepat dan dan gaya yang paling baik. Digunakan dalam situasi tertentu.
·         Kedua, diksi adalah kemampuan secara tepat membedakan nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar atau pembaca.
·         Ketiga, diksi yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan kosakata yang banyak.


B.    Makna Kata dan Jenis Diksi
Yang disebut makna adalah hubungan antara bentuk bahasa dan barang yang diacunya. Ada macam – macam makna, diantaranya ;
1.      Makna Leksikal
Adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur(frasa, klausa, kalimat).
Contoh :
Para pendaki gunung mandi di sumber air panas di lembah gunung. (mandi=makna leksikal)
Ayah tidur di shofa empuk yang mahal itu. (tidur=makna leksikal).
2.      Makna Gramatikal
Adalah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatika (pengimbuhan, pengulangan, atau pemajemukan)
Contoh :
(Makanan, Makan-makan, Makan siang) Makna Gramatikal
Menjelang berbuka puasa, warga memberikan makanan pada pengguna jalan.
Kami sekeluarga mengadakan acara makan-makan di resto ternama di kota Jakarta.
Jam istrirtahat menjadi kesempatan kita untuk makan siang.
(Setiap hari, Hari libur, Hari-hari) Makna gramatikal
Ia mendapat gaji setiap hari ketika pulang kerja.
Hari libur kali ini, kami berlibur ke Bali.
Tetaplah di sini temani hari-hariku yang sunyi.
3.      Makna Denotatif
Adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai apa adanya. (Arifin, 2009)
Dalam bentuk murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah. Seorang penulis hanya ingin menyampaikan informasi kepada kita, dalam hal ini khususnya bidang ilmiah, akan berkecenderungan untuk menggunakan kata-kata yang denotatif. Sebab pengarahan yang jelas terhadap fakta yang khusus adalah tujuan utamanya. (Keraf, 2009)
Contoh :
Rumah itu luasnya 250 meter persegi. (Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, 2009)
Kambing hitam itu terlihat sangat gagah ketika sedang berdiri
Keterangan :
Pada contoh diatas semuanya mengandung makna denotatif, karena semua kata diatas tidak mengandung makna atau perasaan tambahan.
4.      Makna Konotatif
Konotasi atau makna konotatif disebut juga dengan makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Maka konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respons mengandung nilai nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi Krena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju – tidak setuju, senang – tidak senang, (Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, 2009)
Contoh :
Bapak itu hanya dijadikan kambing hitam oleh atasannya yang ingin mengambil keuntungan. (kambing hitam artinya orang yang disalahkan
Meluap hadirin yang mengikuti pertemuan itu (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Keterangan :
Semua kata yang bercetak miring diatas merupakan makna konotatif, karena makna yang ada didalamnya terdapat arti tambahan jika dikaitkan dengan dengan situasi dan kondisi tertentu.



C.   Persyaratan Ketetapan Diksi
Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang difikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Beberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan katanya itu.
  1. Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Dari dua kata yang mempunyai makna yang mirip satu sama lain, ia harus menetapkan mana yang akan dipergunakannya untuk mencapai maksudnya. Jika hanya menginginkan pengertian dasar, maka ia harus memilih kata yang denotatif. Jika ia menghendaki reaksi emosional, ia harus memakai kata konotatif.
  2. Membedakan kata-kata yang cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Kata yang bersinonim tidak selalu mempunyai distribusi yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, penulis atau pembicara harus berhati-hati dalam memilih kata, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan
  3. Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Contoh: Bahwa-bawah-bawa, karton-kartun dan sebagainya.
  4. Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri
  5. Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing. Contoh : faforable-faforit, progress-progresif, dan sebagainya.
  6. Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara ideomatis. Contoh : angat akan bukan ingat terhadap, mengharapkan bukan mengharap akan dan sebagainya.
  7. Untuk menjamin ketetapan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus.
  8. Mempergunakan kata kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.
  9. Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang terkenal.
  10. Memperhatikan kelangsungan pilihan kata. 
D.   Kata Umum Dan Kata Khusus 

Kata khusus
a.      Nama Diri
Pada umumnya, kita sepakat bahwa nama diri adalah istilah yang paling khusus, sehingga menggunakan kata-kata tersebut tidak akan menimbulkan salah paham. Bahwa nama diri ini merupakan kata khusus, tidak boleh disamakan dengan kata yang denotatif. Contoh; seorang yang bernama Mat Bonang yang dilahirkan pada tanggal 17, bulan 7, dan tahun 1997, pada dasarnya hanya memiliki denotasi, dan tidak akan memiliki konotasi lain selain dari penyebut orang itu.
Tetapi dalam perkembangan waktu, nama diri dapat juga menimbulan konotasi tertentu. Konotasi ini timbul dari perkembangan yang dialami orang yang menggunakan nama itu. Contoh; Bagi Ibunya, Ahmad yang berumur 1 tahun adalah anak yang dimanjakan, sedangkaan pada umur 18 tahun ia merupakan anak yang banyak menimbulkan duka dan cucuran air mata karena sering berkenalan dengan petugas keamanan. Disini tampak bawa kata yang paling khusus itu tetap tidak menimbulkan salah paham dalam pengarahannya, tetapi kata itu sudah menimbulkan konotasi yang berlainan dalam perkembangan waktu. Jadi, sifat khusus dapat bersifat denotatif maupun bersifat konotatif. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
b.      Daya Sugesti Kata Khusus
Di samping memberi informasi yang jauh lebih banyak, kata khusus juga memberi sugesti yang jauh leebih mendalam. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Perhatikan contoh dibawah ini :
Gelandangan itu bertatih-tatih sepanjang trotoir itu
Kalimat ini menimbulkan efek yang mendalam. Walaupun sudah terlalu lazim bagi kota-kota besar, namun kata gelandangan masih memiliki sugesti yang khusus. Ia bukan saja menyatakan seorang manusia, tetapi juga menyatakan tentang watak, tampang, dan karakter orang itu.

Kata Umum
a.      Gradasi Kata Umum
Bila kita beralih dari nama diri kepada kata benda misalnya, maka kesulitan itu akan meningkat. Semakin umum sebuah kata, semakin sulit pula tercapai titik pertemuan antara penulis dan pembaca. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Kata benda sepeti anjing misalnya akan menimbulkan daya khayal yang berbeda antara penulis dan pembaca. Kita tidak tahu bagaimana tepatnya pengertian dan cirri-ciri anjing itu. Mungkin penulis membayangkan anjing dari keturunan herder, sebaliknya pembaca yang membaca kata anjing itu membayangkan seekor anjing kampong.
Sesungguhnya perbedaan antara yang khusus dan umum, bagaimanapun juga akan selalu bersifat relatif. Sebuah istilah atau kata mungkin dianggap khusus bila dipertentangkan dengan istilah yang lain, tetapi akan dianggap umum bila harus dibandingkan dengan kata yang lain. Semakin umum sebuah kata, semakin sulit bagi pembaca untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh penulis. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

b.      Kata-kata Abstrak
Kesulitan yang sama kita hadapi lagi pada waktu mendengar atau membaca kata-kata yang abstrak dan kata yang menyatakan generalisasi. Banyak kosakata terbentuk sebagai akibat dari konsep yang tumbuh dalam pikiran kita, bukan mengacu kepada hal yang kongkret. Seperti pada kata-kata seperti; kepahlawanan, kebajikan, kebahagiaan, keadilan, dan sebagainya, akan menimbulkan gagasan yang berlainan pada setiap orang, sesuai dengan pengalaman dan pengertiannya mengenai kata-kata itu. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

Penggunaan Kata Umum Dan Kata Khusus
Dalam hal ini, kebijaksanaan setiap penulis memegang peranan yang penting. Ia tidakboleh mempergunakan kata abstrak atau kata umum lebih banyak dari pada yang diperlukan. Apabila ia harus mempergunakannya juga, maka ada baiknya ia menyertakan juga contoh-contoh yang kongkret dan khusus supaya pembaca dapat menciptakan pengalaman-pengalaman mental, sehingga dapat tercapai titik pertemuan itu.  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Pendeknya, pengertian-pengertian yang umum perlu dapat menjelaskan lebih lanjut, memerlukan lagi pengembangan yang kongkret dan khusus pula. Semakin besar suatu hal yang dinyatakan melalui suatu istilah yang umum, makin besar pula keharusan untuk memberikan perincian-perinciannya.  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

Kata Indria
Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah penggunaan istilah yang menyatakan pengalaman-pengalaman yang dicerap oleh pancaindria, yaitu cerapan indria penglihatan, peraba, perasa, dan penciuman. Karena kata-kata ini menggambarkan pengalaman manusia melalui pancaindra secara khusus, maka terjamin pula daya gunanya. Terutama dalam membuat deskripsi. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
           Sering kali bahwa hubungan antara suatu indria dengan indria yang laindirasakan begitu rapat, sehingga kata yang sebenarnya hanya dikenakan kepada suatu indria dikenakan pula pada indria lainnya. Gejala semacam ini disebut sinestesia. Contoh: kata merdu seharusnya bertalian dengan pendengaran, sedangkan kata sedap bertalian dengan perasa. Tetapi sering pula terjadi bahwa suara yang seharusnya bertalian dengan pendengaran disebut juga sedap  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009) Kata yang sediakala bertalian dengan perasa kemudian dihubungkan juga dengan penglihatan dan pendengaran.
Misalnya :
Wajah manis sekali.
Suaranya terdengar manis.


E.    Perubahan Makna

Tejadinya Perubahan Makna
Dari waktu ke waktu, makna kata-kata dapat mengalami perubahan, sehingga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi pemakai yang terlalu bersifat konservatif. Oleh sebab itu, untuk menjaga agar pilihan kata selalu tepat, maka setiap penutur bahasa harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan makna yang terjadi. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Dalam persoalan gaya bahasa atau lebih khusus dalam persoalan pilihan kata, dasar yang dipakai sebagai patokan untuk menentukan apakah suatu makna sudah berubah atau tidak adalah pemakaian makna dengan makna tertentu harus bersifat nasional (masalah tempat) terkenal, dan sementara berlangsung (masalah waktu).  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan, penyempitan, pembatasan, pengaburan, dan pergeseran makna. (Widjono, 2008)
Contoh :
Sebelum perang Dunia II kita mengenal kata “Daulat” dengan arti; 1. bahagia, berkat kebahagiaan, misalnya : Daulat Tuanku; biasanya dipakai untuk raja-raja atau sultan-sultan. 2. mempunyai kekuasaan yang tinggi, misalnya penyerahan kedaulatan republik Indonesia. Tetapi selama revolusi fisik menentang penjajahan belanda, kata daulat dipakai dengan arti yang agak lain yaitu merebut hak dengan tidak sah, misalnya; Tanah-tanah perkebunan belanda banyak yang didaulat oleh rakyat. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Macam-macam Perubahan Makna
1.      Perluasan Arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih umum. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Contoh : Dahulu, kata “Bapak” dan “ Saudara” hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya desebut bapak, dan lain-lainnya dengan sudara.
2.      Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata damana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Contoh : Kata “sarjana” dulu dipakai untuk menyebutkan semua orang cendikiawan. Sekarang dipakai untuk gelar universiter.


F.    Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah Style. Kata style diturunkan dari kata latin Stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Walaupun kata style berasal dari bahasa latin, orang yunani sudah mengembangkan sendiri teori-teori mengenai style itu. Ada dua aliran yang terkenal, yaitu :
  1. Aliran Platonik: memgungkap style sebagai kualitas suatu ungkapan; menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, dan ada juga yang tidak memiliki style.
  2. Aliran Aristoteles: menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren, ada yang ada dalam tiap ungkapan.
Secara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya. Begitu pula sebaliknya. Style atau gaya bahasa dapat di batasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
G.   Sendi Gaya Bahasa

Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam bahasa. Pemakaian kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mrngandung ketidakjujuran. Pemakaian bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yng akan dikatakannya. Bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul. Oleh sebab itu, ia harus digunakan pula secara tepat dengan memperhatikan sendi kejujuran. (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

Sopan-santun
Sopan-santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkata.  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Adapun kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu :
  1. Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat.
  2. Kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat.
  3. Kejelasan dalam pengaturan ide secara logis.
  4. Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan.

Kesingkatan jauh lebih efektif dari pada jalinan yang berliku-liku. Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efesien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih, yang bersinonim secara longgar, menghindari tautologi atau mengadakan reperisi yang tidak perlu. Diantara kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan-santun, syarat kejelasan masih jauh lebih penting dari pada syarat kesingkatan.  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

Menarik
Kejujuran, kejelasan, serta kesingkatan harus merupakan langkah dasar dan langkah awal. Bila gaya bahasa hanya mengandalkan kedua atau ketiga, kaidah diatas, maka bahasa yang digunakan masih terasa tawar, tidak menarik. Oleh sebab itu, gaya bahasa harus pula menarik. Gaya bahasa menarik dapat diukur melalui beberapa komponen sebagai berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi).  (Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Penggunaan variasi akan menghindari monotoni, dalam nada struktur, dan pilihan kata. Humor yang sehat berarti gaya bahasa itu mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dan nikmat. Vitalitas dan daya khayal adalah pembawaan yang berangsur-angsur dikembangkan melalui pendidikan, latihan dan pengalaman.

H.     Jenis-jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandangan. Oleh sebab itu, sulit diperoleh kata sepakat mengenai suatu pembagian yang bersifat menyeluruh dan dapat diterima oleh semua pihak. Pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat tentang gaya bahasa sejauh ini sekurang-kurangnya dapat dibedakan, pertama, dilihat dari segi nonbahasa dan kedua dilihat dari segi bahasa. (Keraf G. , 2009)




Segi Nonbahasa
Pengikut Aristoteles menerima style sebagai hasil dari bermacam-macam unsur. Pada dasarnya style dapat dapat dibagi atas tujuh pokok sebagai berikut:
  1. Berdasarkan pengarang: Gaya bahasa yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri-ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya. Contoh: gaya Chairil, gaya Takdir dan sebagainya.
  2. Berdasarkan Masa: Gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Contoh: gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern dan sebagainya.
  3. Berdasarkan Medium: Yang dimaksud dengan medium adalah bahasa dalam arti alat komunikasi. Tiap bahasa karena struktur dan situasi sosial pemakainya, dapat memiliki corak tersendiri. Contoh: karangan yang ditulis dalam bahasa Jerman, gaya bahasanya berbeda dengan yang ditulis dengan bahasa Jepang, indonesia, Arab dan sebagainya.
  4. Berdasarkan Subjek: Subjek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Contoh yang kita kenal, gaya filsafat,ilmiah (hukum, teknik, sastra) dan sebagainya.
  5. Berdasarkan Tempat: Gaya ini mendapat namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. Contoh: gaya jakarta, gaya jogja, gaya medan dan sebagainya.
  6. Berdasarkan Hadirin: Hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Contoh: adanya gaya populer yang cocok untuk masyarakat banyak, anak-anak, dewasa dan sebagainya.
  7. Bedasarkan Tujuan : Gaya berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang. Misal, gaya humoris, gaya teknis dan sebagainya.
Segi Bahasa
Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu :
·         Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat yang sesuai untuk posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

a.      Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesepakatan-kesepakatan resmi, gaya yang dipergumakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Contoh: Amanat kepresidenan, pidato-pidato yang penting, dan sebagainya.  (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

b.      Gaya Bahasa Tidak Resmi
Gaya bahasa tidak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan tidak formal atau kurang formal. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam artikel-artikel mingguan, buku-buku pegangan, majalah, tabloid dan sebagainya. (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Gaya bahasa resmi dan tidak resmi dapat dibandingkan sebagai berikut : gaya bahasa resmi dapat diumpamakan sebagai pakian resmi, pakaian upacara, sedangkan gaya bahasa tidak resmi adalah bahasa dalam pakaian kemeja, yaitu berpakaian secara baik, konfesional, cermat, tetapi untuk keperluan sehari-hari, bukan untuk pesta peristiwa resmi. (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
c.       Gaya Bahasa Percakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan itu sendiri. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata yang populer atau kata-kata yang dikenal dan kata-kata percakapan. Penggunaan gaya bahasa ini digunakan ketika bercakap-cakap dengan orang lain, kebiasaan-kebiasaan dan sebagainya.  (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

·         Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti(ajakan) yang pancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata jika diikuti dengan suara dari pembicara, bila yang dihadapi adalah bahasa lisan.  (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
Gaya bahasa dilihat dari sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga dan gaya menengah.
a.      Gaya sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah pelajaran, perkuliahan, dan sebagainya. Gaya ini cocok pula digunakan untuk menyampaikan fakta atau pembuktian-pembuktian. Untuk mempergunakan gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup. (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)
b.      Gaya Mulia dan Bertenaga
Sesuai dengan namanya gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu itu tidak hanya dengan tenaga ungkapan pembicara tetapi juga mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Contoh khutbah tentang kemanusiaan dan keagamaan. (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)

c.       Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai, karena tujuannya untuk menciptakan suatu keadaan yang senang dan damai, maka nada yang digunakan lemah lembut, penuh kasih sayang dan mengandung humor agar dapat menghibur pendengar. Contoh Pada kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, rekreasi dan sebagainya.  (Keraf G. , Diksi Dan Gaya Bahasa, 2009)


  • Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
            Yang dimaksud dengan struktur kalimat di sini adalah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. Ada kalimat yang bersifat periodik, bila bagian yang terpenting atau gagasan yang mendapat penekanan ditempatkan pada akhir kalimat. Ada kalimat yang bersifat kendur, yaitu bila bagian kalimat yang mendapat penekanan ditempatkan pada awal kalimat. Dan jenis yang ketiga adalah kalimat berimbang, yaitu kalimat yang mengandung dua bagian kalimat atau lebih yang kedudukannya sama tinggi atau sederajat. Gaya bahasa yang termasuk ke dalam kategori ini, anatara lain: klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi (epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, anadiplosis).

  • Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna 
Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, maka acuan itu dianggap sudah memiliki gaya sebagai yang dimaksudkan di sini.

Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speech, yaitu suatu penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dari bahasa biasa, entah dalam (1) ejaan, (2) pembentukkan kata, (3) konstruksi (kalimat, klausa, frasa), atau (4) aplikasi sebuah istilah, untuk memperoleh kejelasan, penekanan, hiasan, humor, atau sesuatu efek yang lain. Dengan demikian trope atau figure of speech memiliki bemacam-macam fungsi: menjelaskan, memperkuat, menghidupkan obyek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak tawa, atau untuk hiasan. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna (trope atau figure of speech) dibagi atas dua kelompok, yaitu:
Gaya bahasa retoris, yaitu gaya bahasa yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu. Yang termasuk ke dalam gaya bahasa ini, antara lain: aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis atau preterisio, apostrof, asindeton, polisindeton, kiasmus, elipsis, eufemismus, litotes, histeron proteron, pleonasme, tautologi, perifrasis, prolepsis atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis, zeugma, koreksio atau epanortesis, hiperbol, paradoks, oksimoron.
Gaya bahasa kiasan, yaitu gaya bahasa yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna, yang termasuk ke dalam gaya bahasa ini, antara lain: persamaan atau simile, metafora, alegori, parabel, fabel, personifikasi atau prosopopoeia, alusi, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, pun atau paronomasia.


BAB IIIPENUTUP



A.   Kesimpulan
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata kata yang tepat atau menggunakan ungkapan ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

Dilihat dari segi umumnya, makna dapat dibagi menjadi dua yaitu makna konotatif dan makna denotatif. Pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Makna konotatif sifatnya lebih professional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan kondisi dan situasi tertentu.

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat dalam imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan penulis atau pembicara, Persoalan pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu pertama, ketetapan pilihan kata, Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata.



Referensi

(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 24). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa (p. 29). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 28). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 88). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 91). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 92). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 93). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 94). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 95). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 96). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 97). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 112). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 113). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 114). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 115). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 117). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 118). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 120). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 121). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2009). In G. Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa (p. 122). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(2008). In Widjono, Bahasa Indonesia (p. 102). Jakarta: Grasindo.