Saturday, 26 July 2014

PUPU SI PENSIL DAN BOLI SI BOLPOINT

Oleh : . FADILA NURUN NAFI’AH  
      Suasana teriknya siang beradu dengan siulan burung – burung kecil yang tengah berteduh didahan pohon. Sebuah anugerah terindah dari Tuhan, ketika orang – orang penting berlari kecil di kantor mereka tanpa sesusahan karena hujan. Juga bari para tanaman, proses normal mereka yaitu fotosintesis dapat dilakukan dengan baik.
            Tak jauh dari seberang jalan raya, tepat di sebuah rumah sederhana berwarna ungu dan biru tua, dengan pekarangan bunga yang cukup luas untuk bermain – main, dengan kolam ikan di sudutnya. Terdapat sebuah pensil dan sebuah bolpoint hitam.
Mereka adalah benda yang biasa dipakai oleh manusia, dan dianggap benda mati. Siang itu, kedua benda tersebut tengah ditelakkan di atas meja beranda rumah. Tanpa sepengetahuan manusia, mereka bisa bercakap – cakap layaknya manusia.
            Sebatang pensil itu memandangi bolpont di sebelahnya. Dia memutar – mutar tubuhnya kesana kemari untuk mencari perhatian, namun tampaknya bolpoint itu diam saja. Pensil tidak tinggal diam, dia mendekati bolpoint itu, kemudian menyapanya.
            “Hay, aku Pupu Pensil. Siapa namamu?” Tanya Pupu si Pensil membuka pembicaraan. Dia terus memperhatikan bolpoint itu. Suasana tiba – tiba menjadi sepi, Pupu melihat ke arah sekitar, berjaga – jaga bila manusia datang.
            Setelah menunggu sedikit lama, bolpoint itu tetap tidak menjawab. Pupu si Pensil menggulingkan badannya, dia mendekatkan tubuhnya sekali lagi.
“Permisi?”
            Pupu si pensil kembali menggulingkan tubuhnya hingga menyentuh tubuh bolpoint. Terdengar tekukan tubuh Pupu dan bolpoint itu. Sontak saja, bolpoint itu terkejut dan sedikit terguling.
            “Ohh!!” Bolpoint itu tampak terkejut. “Ada apa? Ada apa?” dia tampak tergagap.
            “Maaf, bolpoint. Aku tidak tahu jika kau sedang tidur” ucap Pupu si Pensil menyesal.
            “Tidak apa – apa” jawab bolpoint ramah, memasang sebuah senyum manis dibibirnya untuk Pupu.
            “Aku Pupu Pensil. Siapa namamu?” Pupu si Pensil kembali memperkenalkan diri
            “Hay, Pupu. Aku Boli Bolpoint” Boli si Bolpoint tersenyum manis ke arah Pupu
            “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Darimana kamu berasal?”
            “Hahaha…” Boli tertawa cukup keras, “Aku baru saja dibeli dari toko disebelah sana” matanya menunjukkan arah seberang jalan.
            “Wah, kau barang baru” wajah Pupu terlihat senang, matanya berbinar – binary. Di dalam hatinya, dia benar – benar merasa senang karena mendapatkan seorang teman baru.
            Pupu dan Boli saling menggelindingkan tubuhnya gembira. Mereka saling tertawa riang. Tawa mereka terhenti ketika angin yang cukup keras membuka paksa lembar buku di samping mereka. Sebuah buku berwarna merah muda bersampul gambar bunga tidak begitu menarik karena sudah lusuh, terlalu sering dipakai untuk menulis.
            Pupu memandang ke arah buku, dia ragu untuk mulai bercerita. “Tuanku baru saja menggunakanku untuk mengerjakan tugas sekolahnya.” Pupu berkata pelan, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah berkata.
            Boli memandang ke arah Pupu tanpa berkata apa – apa. Senyumnya masih saja sempat menghiasi wajahnya.
            “Dia bilang, menggunakanku lebih mudah. Karena mudah dihapus” lanjut Pupu
            Boli diam saja, matanya menatap lekat – lekat ke arah tubuh Pupu. Kemudian dia menggulingkan tubuhnya mendekati sebuah kertas. Kertas berwarna putih, terlipat di pojok meja.
            “Tuanku baru saja menggunakanku untuk menulis surat, dia bilang menggunakanku lebih mudah, karena hasil tulisannya bagus dan awet” kini Boli terlihat sedikit murung, tidak ada yang tahu apa yang dia rasakan. Namun, tidak lama senyumnya kembali mengembang. “Itulah aku. Hahaha..”
            Pupu terdiam sejenak, dia memandangi tubuh Boli. “Hebat” katanya singkat.
            “Kita mempunyai tugas yang hampir sama. Namun, diantara kita siapa yang paling berguna?” Tanya Boli sambil menundukkan kepala
            “Aku tidak tahu. Mari kita cari tahu” sahut Pupu bersemangat.
            Tanpa mereka ketahui, Billy burung hantu yang tengah bertengger di dahan pohon dekat mereka mendengarkan percakapan mereka. Dia tersenyum tapi berkata apa – apa.
            Boli dan Pupu terdiam, mereka menatap langit secara bersamaan. Secara bersamaan mereka menutup mata pelan – pelan, berusaha menikmati desiran angin yang kala itu tidak terlalu pelit untuk memberikan kesejukan bagi makhluk bumi. Dudaunan di pohon saling memberikan irama, sahut menyahut membentuk sebuah shymponi alam.
Diantara lembutnya hembusan angin seekor burung Pipit terbang mendekati mereka. Burung itu terbang pelan dan sangat pelan.
            “Hallo, namaku Lili Pipit. Bolehkah aku bermain dengan kalian?” sapa Lili si burung pipit
            “Tentu saja Lili, silahkan bergabung. Aku Pupu” Jawab Pupu ramah
            “Aku Boli” Boli menyahut “Kau punya sayap yang indah, kau pasti bisa terbang kemanapun kau suka” Boli memuji Lili. Lili tersenyum sambil memandangi sayapnya.
            “Ohh ini, seluruh keluargaku memiliki sayap. Kami bisa terbang mencari makan kemanapun kami suka.” Lili tersenyum sambil membuka kedua sayapnya lebar – lebar.
            Boli menatap Pupu sambil memberikan isyarat.
            “Lili, menurutmu siapakah diantara kami yang paling berguna?” Pupu bertanya pada Lili. Lili diam, matanya tampak kebingungan. Dia manggaruk kepalanya, dia sedang mencoba untuk berpikir.
            “Pupu lebih berguna daripada Boli. Pupu sering digunakan untuk menggambar diriku di kanvas. Hasilnya bagus” kata Lili hati – hati. Dia takut menyinggung perasaan teman – teman barunya.
            Pupu terdiam, tapi didalam hatinya dia tersenyum puas. Boli menganggukkan kepala, dia merasa sedikit setuju dengan pendapat Lili.
            “Baiklah, aku akan pergi. Aku tidak ingin orang tuaku mencariku lagi. Sampai jumpa teman – teman” Lili terbang menjauh, meninggalkan dua sahabat yang masih terdiam.
            Angin kembali berhembus. Cahaya matahari perlahan – lahan semakin menghilang. Burung – burungpun terbang cepat kembali ke sarang mereka. Dedaunan bergerak lembut menyambut burung – burung yang tinggal di dahannya. Orang lalu lalang dengan cepatnya, mereka ingin segera pulang ke rumah agar bisa bertemu dengan keluarganya. Suasana sore yang khas memberikan kenikmatan tersendiri. Ketika lampu – lapu mulai dihidupkan, terlihat titik – titik kecil menghiasi berbagai sudut kota.
            Seorang anak perempuan berambut hitam keluar dari rumahnya, dia memungut Pupu dan Boli. Kemudian dia menaruh Pupu dan Boli diatas meja belajarnya, dia pun beranjak pergi untuk mekan malam.
            “Mungkin yang dikatakan Lili itu benar” gumam Pupu dalam hati. Dia hanya menggulingkan tubuhnya pelan mengikuti irama hatinya. Boli memperhatikan tingkah Pupu, dia bersiul lembut. Tiba – tiba, sebuah penggaris mendatangi mereka.
            “Boli!” penggaris itu mengejutkan Pupu dan Boli. Boli cepat – cepat menengok ke arah datangnya suara.
            “Hallo, Lery.” Sapa Boli gembira
            “Bagaimana kabarmu Boli? Sudah lama kita tidak bertemu sejak aku dibeli. Sekarang kita mempunyai satu pemilik yang sama. Hahaha…” Lery si penggaris tertawa senang.
            Pupu mendengar percakapan Boli dan Lery, dia menggulingkan badannya mendekati mereka berdua.
            “Lery, Boli, apa yang kalian bicarakan?”
            “Dulu aku dan Lery berada di toko yang sama, sekarang kami mempunyai pemilik yang sama” Boli tersenyum senang sekali. Pupu ikut tertawa senang.
            Lery menceritakan pengalamannya ketika keluar dari toko. Dia pernah dipatahkan oleh teman pemiliknya yang usil. Namun, pemiliknya dapat menyambungkan tubuhnya kembali seperti semua. Lery juga berceritanya banyak tentang pengalamannya di sekolah, bagaimana tubuhnya digunakan untuk mengukur dan membuat garis, sesekali dia tertawa karena saat tubuhnya digunakan dia merasa geli.
            Pupu dan Boli ikut tetawa mendengar cerita menarik milik Lery. Mereka bertiga bergantian berceria, semua terlihat sangat gembira.
            “Begitulah ceritaku” tutup Boli, “Jadi, menurutmu siapakan diantara kami yang paling berguna?” Boli mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi sudah dia simpan.
            Lery lama tidak menjawab, dia terlihat kebingungan. Matanya kadang menatap Pupu, kemudian menoleh ke arah Boli.
            “Boli lebih berguna. Dia sering digunakan untuk menanda tangani dokumen dokumen penting karena dia awet” jawab Lery sambil menunjuk ke arah Boli.
            Pupu terdiam memandang Boli yang tengah tersenyum. Lery masih terlihat bingung, sesekali dia tertawa kecil dan tidak ada yang tahu apa yang Lery rasakan. Dia tidak ingin menyakiti kerasaan kedua sahabatnya.
            “Untuk apa kau bertanya seperti itu, Boli?” Tanya Lery pelan, dia berjalan pelan menjauhi kedua sahabat barunya, memasang muka penting seperti para pejabat tinggi.
            “Kami ingin mencari tahu, siapa diantara kami yang paling berguna.” Pupu lebih cepat menjawab, dan nadanya sedikit lebih ketus.
            “Ya, kami mencari tahu, siapa yang paling berguna diantara kami” Boli menjelaskan. Lery tertawa keras sambil merangkul Boli.
            Pupu merasa diremehkan, dia menggulingkan badannya menjauh sejauh mungkin dari Lery dan Boli.
            “Akulah yang paling berguna. Bukan Boli!” katanya kesal.
            Pupu berguling dan terus berguling. Tanpa sadar, Pupu menggulingkan tubuhnya terlalu jauh sehingga dia terjatuh dari atas meja belajar. Dia tergelinding sampai ke kolong tempat tidur. Pupu panik, dia takut kegelapan.
“Tolong! Tolong!” dia berteriak sekeras mungkin agar ada yang mendengarnya. Namun, semua percuma. Jarak dirinya dengan Boli sangatlah jauh. Pupu hanya menangis.
            Pagi harinya, Pupu belum juga diambil oleh pemiliknya. Pupu mencoba menggelindingan tubuhnya keluar dari bawah tempat tidur, namun semua itu sia – sia. Pupu merasa sangat sedih. Tampak pemiliknya memaksukkan Boli dan Lery kedalam tempat pensil tanpa menghiraukan Pupu.
            Pupu menunggu lama sekali. Tidak ada yang mengambilnya. Pupu kembali menangis, “Seandainya aku tidak merasa sakit hati, mungkin aku tidak akan pergi dari Boli dan tidak akan terjatuh di bawah tempat tidur ini.. huhuhu” Pupu menangis sesenggukan. Hingga akhirnya..
            “Srek .. srek .. srek..” terdengar suara sapu di atas lantai. Rupanya, itu ibu dari pemilik Pupu sedang menyapu. Dan .. “Buukk” Pupu tersapu dan tergelinding keluar dari bawah temat tidur.
            “Astaga, Nina lupa tidak membawa pensilnya. Padahal hari ini dia sedang ulangan” kata ibu pemiliknya sedih kemudian menaruh Pupu diatas meja belajar.
            Pupu sangat menyesal, dia menyesal karena tanpa dirinya pemiliknya tidak bisa mengerjakan ulangan. Tapi pupu kembali berpikir, bukankah pemiliknya telah membawa Boli, pasti dia akan menggunakan Boli. Pupu diam dan hatinya masih merasa dongkol. Dilihanya jam dinding, beberapa jam lagi pemeliknya akan segera pulang.
            Siang harinya, suara pintu terbuka terengar sangat keras. Pupu yang tengah tertidur, terkejut dan terbangun. Terdengar isak tangis didalam kamar, rupanya itu suara tangisan pemiliknya.
            “Nina, ada apa ? kenapa kamu menangis?” Suara lembut dari ibu pemiliknya membuat Pupu makin terkejut.
            “Nilai ulanganku jelek, Bu. Gara – gara aku lupa membawa pensil”
            “Bukankah kamu sudah membawa bolpoint?”
            “Iya, tapi bolpoint itu digunakan untuk menebalkan tulisan. Saat mengerjakan di lembar jawab, bu guru menyuruh murid – murid untuk menggunakan pensil terlebih dahulu, kemudian bila sudah mantap, dikoreksi kembali menggunakan bolpoint” suara tangis pemiliknya semakin keras. “Tadi, aku langsung menggunakan bolpoint sehingga jawabanku lupa belum aku koreksi lagi”
            Pupu terpaku, dia merasa sangat menyesal. Gara – gara ulahnya, pemiliknya jadi bersedih. Padahal dengan baik hati pemiliknya sudah merawat dan menjaga dirinya dengan baik.
            Beberapa hari kemudian, Pupu berpisah dengan Boli. Entah apa yang membuat mereka selalu ada di tempat terpisah. Pupu semakin merasa kesepian, dia rindu kepada temannya Boli.
            Hingga disuatu siang, Pupu diletakkan di meja beranda rumah, pemiliknya baru saja menggunakan dirinya untuk mengambar. Cuaca hari itu tampak bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga siapaun mau bermain di luar rumah. Ketika pemiliknya pergi untuk bermain, Pupu membuka mata. Dia mengguling – gulingkan tubuhnya pelan dan hati – hati agar tidak terjatuh.
            Tak lama kemudian, pemliknya datang lagi dan menaruh Boli dan Lery disebelah Pupu. Pupu begitu senang, dia tersenyum dan mengetuk – ketukkan tubuhnya ke tubuh Boli. Boli terkejut dan menggulingkan tubuhnya memeluk Pupu.
            “Ohh…Pupu. Aku sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu” Boli terharu melihat Pupu. Dia memeluk Pupu erat – erat, seakan dia tidak mau melepaskan Pupu.
            “Maafkan aku, Boli” sesal Pupu
            “Ahh tidak apa – apa. Kau tahu? Pemilik kita sangat sedih karena kamu tidak ada” Boli menatap Pupu lekat, dia berharap Pupu juga turut merasakan kesedihannya.
            “Tapi, sebenarnya aku iri padamu.” Pupu terdiam sesaat, “Lery pernah mengatakan bahwa kau lebih berguna daripada aku” Pupu menangis sesenggukan.
Boli terlihat bingung, Lery mendengarkan pembicaraan Pupu dan Boli, dia menatap ke arah Pupu menyesal.
“Maafkan aku, Pupu. Aku tidk bermaksud menyinggu perasaanmu” Lery mendekati Pupu.
            Billy si Burung Hantu yang dari tadi memerhatikan mereka, terbang rendah dan bertengger di dahan paling bawah. Dia tersenyum dan mernyanyi lembut.
            “Hem.. Hem… Hem…” Billy melirik Pupu “Nak, kenapa kau menangis?”
            Pupu terkejut, suaranya serak karena dia masih menangis. Pupu menoleh pelan ke arah Billy, diikuti Boli dan Lery.
            “Hay, Pupu..Hay.. Boli” Lili burung pipit datang, dia menghampiri Pupu yang tengah menangis. “Kenapa kamu menangis, Pupu?”
            Boli dengan ibapun angkat bicara, dia menceritakan tentang kejadian yang menimpa Pupu. Billy dan Lili mengangguk paham.
            Billy yang pertama kali tertawa, tawanya cukup keras dan menggelikan. Boli yang baru saja selesai menceritakan kejadian Pupu segera tertawa, Lery dan Lili juga tampak tertawa kecil.
            “Nak, kita sebagai makhluk Tuhan diciptakan untuk bersama. Tidak ada diantara kita yang paling hebat ataupun paling berguna. Kita hidup di dunia harus saling tolong menolong” ujar Billy.
            Pupu berhenti menangis. Dia mengusap air matanya dan memandang Billy.
            “Kalian semua berguna untuk pemilik kalian.” Lanjut Billy
            “Tapi, kami hanya ingin mencari tahu siapa yang paling berguna” Pupu menjawab, dia kembali meyakinkan Billy
            “Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kita hidup bersama untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Begitu pula persahabatan, kalian harus pandai memanfaatkan kelebihan kalian untuk menutupi kekurangan orang lain” jelas Billy bijaksana
            “Aku setuju dengan Billy” Lili dengan semangat membuka sayapnya lebar – lebar dan terbang mengitari Pupu dan Boli.
            Pupu tersenyum puas. Dia memeluk Boli erat – erat sehingga Boli meronta – ronta untuk melepaskan diri. Dia berterima kasih pada Billy dan seluruh teman – temannya.
            Suasana siang itu semakin indah dengan dihiasi tawa dari anak – anak yang tengah bermain di luar rumah, burung – burungpun bernyanyi gembira.

            “Ahh memang benar. Tidak ada yang lebih indah selain PERSAHABATAN” Gumam Pupu dalam hati.         

No comments:

Post a Comment